Senin, 05 Maret 2012

Fakta "Ganja bukan Narkotika".


Marijuana atau disebut juga ganja, bukanlah narkotika.Walaupun undang² menyebutnya sebagai narkotika, ganja berbeda secara farmakologis dengan keluarga dan turunan opium dan narkotik sintetis.

(Wolstenholme,1965;Watt,1965;Garattini,1965;1 Crim 5351 Calif.District Court of Appeal,1st Appel.Dist.)

Marijuana(ganja) tidak menyebabkan kecanduan.Pemakaiannya tidak memunculkan ketergantungan fisik.

(Mayor’s Committee on Marihuana,New York City,1944;Allentuck & Bowman,1942;Freedman&Rockmore,1946;Fort,1965a, 1965b;Panama Canal Zone Governor’s Committee,1933;Phalen,1943;Indian Hemp-Drug Commission,1894;Watt,1965;I Crim 5351 Calif.District Court of Appeal,1st Appel.Dist.;United Nations,1964a,1964b)

Marijuana(ganja) tidak berbahaya bagi kesehatan,Bahkan bila digunakan dalam jangka waktu yang lama, marijuana / ganja tidak tampak menyebabkan gangguan fisik/psikologis.

(Mayor’s Committee on Marihuana,New York City,1944;Freedman&Rockmore,1946;Fort, 1965a,1965b;Panama Canal Zone Governor’s Committee,1933;Phalen, 1943;Indian Hemp-Drug Commission,1894;Becker,1963)

Ganja tidak cenderung melepaskan“perilaku agresif.” Sebaliknya,penggunaannya menghambat perlaku agresif; dan marijuana bertindak sebagai “penenang.”


(Mayor’s Committee on Marihuana,New York City,1944;Fort,1965a,1965b;Panama Canal Zone Governor’s Committee,1933;Phalen,1943;Garattini,1965)

Ganja tidak“menggiring”/“mendorong” pada penggunaan obat²an adiktif.“98 % dari pemakai heroin memulai dengan merokok tembakau dan minuman keras terlebih dahulu”

(Mayor’s Committee on Marihuana,New York City,1944;Fort,1965a,1965b;Panama Canal Zone Governor’s Committee,1933;Phalen,1943;Garattini,1965)

Efek dari merokok ganja dideskripsikan sebagai berikut:“euforia,berkurangnya rasa lelah, dan pelepasan ketegangan, juga dapat meningkatkan nafsu makan, mendistorsi perspektif waktu, meningkatkan kepercayaan diri, dan, seperti alkohol, dapat melemaskan beberapa hambatan.”(Fort,1965) Meningkatnya kesadaran terhadap warna dan kecantikan estetis, produksi dari asosiasi mental yang baru dan kaya, juga merupakan efek yang sering dilaporkan.

Beberapa pengguna menyebutkan bahwa pengalaman mengkonsumsi ganja adalah“psikedelik” yaitu dapat menimbulkan peningkatan kesadaran, atau bisa juga memberikan dampak perubahan kesadaran-meluas dalam perspektif, ide mengenai diri sendiri, kehidupan,dll. ganja bagaimanapun tidak seperti LSD–sebuah psikedelik yang kuat. Dimana LSD secara drastis merubah pikiran dan perspektif, seringkali“memaksa”pemakainya untuk merasakan kesadaran yang meningkat, marijuana memberikan“sugesti”/menunjukkan jalan pada kesadaran yang lebih dalam secara moderat.

Berangkat dari dasar bahwa ganja lebih aman dan lebih bermanfaat dari tembakau/alkohol (dimana keduanya beracun pada fisik, dan keduanya juga merupakan adiktif), dan tidak ada dasar untuk melegalkan kedua zat berbahaya ini sementara melarang 1 yang justru tidak berbahaya, banyak dari pihak kejaksaan yang sedang menentang hukum saat ini.

Pada susunan kata dari penjelasan hukumnya:“Para penuntut menyatakan bahwa klasifikasi ganja pada bagian narkotik Seksi 1101 (d) pada Kode Kesehatan dan Keselamatan dan juga hukum yang melarang ganja berdasarkan pada klasifikasi yang subyektif dan tidak mempunyai alasan serta tidak memiliki hubungan dengan kesehatan publik, keamanan kesejahteraan dan moral. Klasifikasi dari ganja sebagai narkotik adalah inkonstitusi dan melanggar klausul Amandemen ke-8 akan larangan terhadap hukuman yg luar biasa dan kejam, dan juga melanggar hak dasar yang merupakan klausul dr Amandemen ke-14 dr Konstitusi Amerika Serikat.”

(1 Crim 5351 Calif. District Court of Appeal,First Appel. Dist.,pp. 61-62 and Appendix 1, p.6)

Banyak kelompok “ahli” seperti WHO Expert Committee on Addiction Producing Drugs cenderung telah mmpertahankan misi informasi tentang ganja karena kurangnya data (Harry J. Anslinger adalah juru bicara selama bertahun-tahun di PBB), dan adanya keengganan konservatif terhadap“pelunakan”/ mengganti kebijakan sebelumnya.Dalam beberapa tahun terakhir, bagaimnapun, WHO(Badan Kesehatan Dunia) telah mngubah pandangannya secar aprogresif terhadap ganja. Pada tahun 1964, Komite Ahli mengusulkan revisi definisi dari jenis2 ketergantungan obat, yang kemudian diadopsi secara bertahap.

Definisi baru dari “jenis kecanduan ganja” adalah sebagai berikut:
1. keinginan (kebutuhan) akan pemakaian berulang dari obat dengan catatan karena efek subyektifnya, termasuk perasaan akan peningkatan kemampuan
2. sedikit atau tidak ada kecenderungan untuk meningkatkan dosis, karena sedikit atau tidak ada peningkatan toleransi
3. ketergantungan psikis dari efek obat ini tergantung pada apresiasi subyektif dan individual dari efek tersebut
4. ketiadaan akan ketergantungan fisik sehingga tidak terdapat ciri-ciri gejala putus zat yang definitif ketika pemakaian obat dihentikan.” (United Nations, 1964b)

Komite ini sebanarnya mengatakan bahwa tidak ada alasan untuk mempertahankan ganja dalam daftarnya: Definisi dari ketergantungan jenis mariyuana dapat dengan mudah memenuhi definisi dari “menyukai” (sebagai contoh, kecenderungan alamiah untuk mengulangi pengalaman yang menyenangkan,memuaskan dan tidak brbahaya). Ketergantungan yang sebenarnya terjadi akan ganja sangatlah jarang, dan tergantung dari permasalahan psikologis sebelumnya-dan bahkan ini tidak “mencandu.”

(Watt, 1965; United Nations, 1964b)

Ganja digunakan dalam bebagai cara di berbagai daerah di dunia.Ia dihisap / dimakan dalam berbagai bentuk untuk menimbulkan kenikmatan dan efek-efek subyektif lainnya dan untuk peningkatan yang disengaja (distorsi) dari persepsi dan performa. Ini sebagian besar mungkin tergolong penyalahgunaan dan diasosiasikan dengan tingkat ketergantungan psikis yang lebih rendah. Tidak ada bukti bahwa ganja dapat menyebabkan ketergantungan fisik.

(World Health Organization, Technical Report Series No. 287, “Evaluation of Dependence-Producing Drugs, Report of a WHO Scientific Group”; Hal. 22)

Beberapa penelitian telah menunjukkan efek terapeutik dari cannabinoid untuk nausea dan muntah-muntah pada tahap akhir penyakit-penyakit seperti kanker dan AIDS.Dronabinol (tetrahydrocannabinol) telah tersedia melalui resep selama lebih dari satu dekade di Amerika Serikat. Kegunaan terapeutik lain dari cannabinoid telah ditunjukkan oleh penelitian yang terkontrol, termasuk pengobatan terhadap asma dan glaukoma, sebagai antidepresan, perangsang nafsu makan, antikonvulsan dan anti-spasmodik, penelitian dalam bidang ini harus dilanjutkan.

Sebagai contoh, lebih banyak penelitian dasar pada mekanisme periferal dan pusat dari cannabinoid pada fungsi pencernaan dapat meningkatkan kemampuannya untuk menghilangkan nausea dan emesis. Riset yang lebih banyak dibutuhkan pada dasar neurofarmakologi dari THC dan cannabinoid lainnya sehingga agen terapeutik yang lebih baik dapat ditemukan.

Baca juga yang ini :

Negara penghasil ganja terbesar didunia

Fakta menarik tentang LSD.

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More